Ayat Ayat Cinta
March 19, 2008 at 4:15 pm (Uncategorized)
Begitu fenomenal, mulai dari buku hingga pelmnya. Saya masih tidak mengerti mengapa pengarangnya memberi judul Ayat Ayat Cinta, bukannya Ayat-ayat Cinta. Secara bahasa Indonesia yang baik dan benar tentu dah menyalahi aturan. Tapi ga perlu dibahas lebih jauh, namanya judul kan bebas, mau jadi Eyet Eyet Cente juga tsah!
Saya tertarik membaca novelnya karena dorongan dari khalayak ramai yang sering membicarakan karya fenomenal ini. Sampai bab kesekian, saya masih belum menemukan titik kesenangan. Hampir menyerah di tengah jalan, tapi saya tekadkan niat untuk menyelesaikan ni buku sampai halaman terakhir. Di pertengahan mulai terasa hawa2 menariknya, tapi tetap ga seasyik ketika saya membaca historical books atau novelnya Mira W.
Banyak yang bilang ceritanya mengharu biru dan membuat airmata menetes dengan mudahnya. Yang saya dapat malahan sakit kepala karena baca ga selesai2. Sepertinya ni buku memang not my type. Akhirnya niat membaca novel laris Laskar Pelangi pun saya batalkan, coz kata Aa not my type juga. Buku yang dibilang orang bagus, ternyata belum tentu cocok di saya.
Teringat buku Tentara Langit di Karbala yang menurut Teteh ga bagus, tapi menurut saya keren banget. Saya penyuka buku2 tipe seperti itu. Selain belajar sejarah, juga menambah ilmu pengetahuan. Buku yang mendidik, nyata, dan ga dibuat2.
Kembali ke Ayat Ayat Cinta. Kata orang2 yang sudah ntn pelmnya en belum baca bukunya, ni pelm layak diacungi jempol. Saya sendiri belum ntn. Rencananya gagal terus. Temen yang saya ajak pertama membatalkan karena ingin ntn di kompie aja, yang kedua juga ga bisa karena ga tau kenapa (saya males nanya alasannya
). Kesempatan ngajak Cacay juga susah, dy gi di kota belantara penuh intrik dan magis
. Rasanya saya ntn di dvd player aja, biz ga da yang diajak
.
Kalo membandingkan buku dengan film, saya rasa kurang pas. Gimanapun buku pasti lebih baik, coz imaginasi kita lebih luas dan penggambaran kita tentang alur ceritanya sesuai dengan imaginasi kita sendiri, jadi pastilah lebih memuaskan. Sedangkan kalo film kan imajinasinya terbatas pada layar. Jadi kurang etislah membandingkan kedua media yang jelas2 berbeda.
Bagaimanapun kurang terbuainya saya terhadap karya ini, tapi saya beri rating 5 untuk bukunya. Berusaha menjadi obyektif, overall ceritanya bagus, menarik, dan ada nilai yang bisa dipetik. Rekomendasi buat pecinta2 novel, tapi buat yang setipe ma saya, ya ambil pelajarannya aja
.